<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Zakyzahra's Weblog</title>
	<atom:link href="http://zakyzahra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://zakyzahra.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 May 2009 05:05:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='zakyzahra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Zakyzahra's Weblog</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://zakyzahra.wordpress.com/osd.xml" title="Zakyzahra&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://zakyzahra.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KEPUTUSAN IBU</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/05/29/keputusan-ibu/</link>
		<comments>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/05/29/keputusan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 05:05:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakyzahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[mai - Fictions]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan coet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zakyzahra.wordpress.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Masih seperti beberapa hari sebelumnya, ibu sama sekali tidak menyentuh makanan yang tersaji. Ibu hanya akan minum atau makan sepotong tahu saat benar-benar ingin. Aku dan Ida sudah kehabisan akal untuk membujuknya. Kalau begini terus, ibu bisa jatuh sakit. “Aku benar-benar makin merasa bersalah, mbak,” kata Ida di tengah ketermanguanku. Ia sudah menenteng keranjang plastik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=184&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih seperti beberapa hari sebelumnya, ibu sama sekali tidak menyentuh makanan yang tersaji. Ibu hanya akan minum atau makan sepotong tahu saat benar-benar ingin. Aku dan Ida sudah kehabisan akal untuk membujuknya. Kalau begini terus, ibu bisa jatuh sakit.</p>
<p>“Aku benar-benar makin merasa bersalah, mbak,” kata Ida di tengah ketermanguanku. Ia sudah menenteng keranjang plastik untuk belanja. Ridlo, bungsunya yang baru berusia empat tahun tampak jongkok menunggui seekor kucing yang menikmati sarapan pagi di depan pintu dapur. Sementara keempat kakaknya sedang bersekolah.</p>
<p>Sejak tiga hari lalu aku di sini atas permintaannya. Ida sangat mengkhawatirkan kondisi ibu sejak mbak-mbak dan masku meributkan keputusannya yang dianggap tidak adil. Hanya aku dan mbak Tarmi saja yang bisa menerima dengan legawa.</p>
<p>“Gak ada yang salah, Id. Yang ada itu ego yang menutup hati untuk melihat kemauan ibu,” kataku agak jengah. Sudah berulang kali Ida mengatakan hal serupa. Dan setiap kali pula aku berusaha membuatnya berhenti melakukannya. Tapi pagi ini aku mengerti, Ida mungkin sangat terpukul atas perlakuan saudara-saudaranya. Apalagi sebelum ibu membuat keputusan, ibu sudah menanyakan pendapatnya. Ia berusaha untuk menolaknya, karena pasti akan menimbulkan konflik dengan yang lain. Apapun alasan ibu, Ida tetap keberatan.</p>
<p>“Aku benar-benar bingung mbak kalau pada akhirnya ibu begini. Apalagi ibu tidak jelas maunya bagaimana. Setiap kali aku tanya, ibu cuma bilang supaya aku gak banyak bertanya. Kan bingung aku, mbak….?”</p>
<p>Kulihat gurat kesedihan pada wajah adikku yang sudah bertekad untuk menemani ibu sejak tiga tahun lalu. Keputusannya sudah bulat sejak suaminya memutuskan untuk bercerai dan menikahi perempuan lain. Akhirnya, ia bersama lima anaknya pindah kembali ke desa dengan berbagai pertimbangan. Setidaknya, ia bisa dengan tenang membesarkan anak-anak dengan kehidupan yang lebih sederhana. Dan yang tidak kalah membahagiakan adalah ia dapat merawat ibu yang sudah lanjut usia.</p>
<p>Saat itu ibu juga terpukul dengan nasib Ida. Aku juga semula tidak setuju Ida pulang ke kampung. Karena pasti akan menjadi beban bagi ibu. Bagaimana pun ibu tidak akan bisa begitu saja tidak memikirkan Ida dengan kelima anaknya yang masih kecil. Empat diantaranya memerlukan biaya untuk sekolah.</p>
<p>Tapi setelah aku berembug dengan suami dan beberapa saudara, kami pun sepakat menerima permintaan Ida. Apalagi Warti yang selama ini menjaga ibu, berencana akan mengikuti suaminya yang tengah merintis usaha kecil di luar kota. Ya, sejak saat itu kami semua mempercayakan perawatan ibu pada Ida. Untuk meringankan bebannya, aku, mbak Is dan mas Darmawan membantu biaya sekolah anak-anak Ida.</p>
<p>Syukurlah, Ida cukup cekatan untuk mempelajari kehidupan bertani. Ladang seluas hampir enam ratus meter persegi, yang semula ditanami pohon kelapa, berangsur-angsur diubahnya menjadi lahan yang lebih produktif. Semula hanya seratus meter yang ia ubah menjadi lahan sayur dan berbagai kebutuhan dapur yang cocok di tanah semacam itu. Ia memberikan pohon-pohon kelapa kepada dua orang tetangga yang membantunya menebang dan mempersiapkan lahan itu selama beberapa hari.</p>
<p>Dengan tangannya yang dingin, Ida mulai menanamkan beberapa benih, mulai dari kebutuhan bumbu dapur hingga sayur-mayur. Bersama dengan tiga anaknya yang sudah besar, ia mengemasnya untuk dijual ke pedagang sayur keliling dan pasar. Semula semua hasilnya ia berikan ke ibu. Tapi kemudian ibu mempercayakan semua untuk dikelola Ida.</p>
<p>Ladang pohon kelapa itu berubah sedikit demi sedikit karena kegigihan Ida. Bahkan Ida bisa mengajak beberapa perempuan tetangga untuk turut mengolah sehingga menambah penghasilan mereka. Ibu luar biasa terhibur, karena rumah tidak lagi sepi.</p>
<p>Sampai disini, aku sama sekali tidak melihat hal yang membuat hati kami tidak nyaman. Pada kenyataannya, ibu selalu sehat. Anak-anak Ida justru membuat ibu terlihat bergairah. Ketika aku berkunjung di beberapa kesempatan, terus terang, aku merasa sedikit iri, tapi sekaligus merasa bersalah. Aku, keluargaku dan anak-anakku belum bisa membuat ibu sebahagia itu. Aku benar-benar bersyukur. Hingga tak ada yang membuat hatiku berat untuk menyisihkan sebagian pendapatanku untuk membantu Ida.</p>
<p>Dan ketika ibu memutuskan untuk menghibahkan lahan itu semuanya pada Ida, spontan aku menerimanya tanpa menanyakan alasan ibu. Karena aku tahu Ida pantas menerimanya. Ini lah percik kejengkelan di hati ibu ketika menyadari tidak semua anaknya mengerti apa yang menjadi maksudnya.</p>
<p>Bahkan mbak Is yang semula turut membantu Ida, sekarang menudingnya macam-macam. Sebaliknya, mbak Tarmi yang hidupnya pas-pasan, berulang kali minta maaf karena tidak bisa membantu ibu dan Ida, justru bisa legawa.</p>
<p>Alasan mba Is dan yang lain, toh Ida juga sudah menerima tanah warisan sepuluh tahun lalu, saat ibu memutuskan untuk segera membaginya sebelum Tuhan tiba-tiba memanggilnya. Dua tahun kemudian, Ida menjual bagiannya. Aku hanya menduga kalau saat itu ia sangat membutuhkan uang. Bisa dipahami, Ida paling gengsi kalau harus minta bantuan siapapun, meski kepada saudaranya sekali pun.</p>
<p>Lalu apa yang menjadi alasan ibu memberikan lahan itu pada Ida? Apa karena Ida yang menemani ibu? Bukankah selama ini Ida juga mendapatkan bantuan dari saudara-saudaranya? Apalagi, lahan itu sumber penghasilan ibu satu-satunya. Mengapa harus diberikan ke Ida? Apa karena ia janda beranak lima? Apa dia kelak tidak sanggup lagi mencari suami yang akan menopang kehidupan mereka? Atau ada hal lain?</p>
<p>Keterlaluan…….. Ibu hanya bisa menangis ketika semua pertanyaan itu dengan teganya disampaikan mbak Is dan mas Wisnu bertubi-tubi. Hingga mereka bertanya tentang “letak keadilan” ibu. Ida ta berhasil menghentikan kalimat mereka yang sangat menyakitkan bagi ibu dan dirinya. Tapi ibu diam…… Tak ada sepatah kata penjelasan pun kecuali,”Itu yang ingin ibu lakukan.”</p>
<p>Itu terjadi sepuluh hari lalu, dan aku hanya bisa mendengar cerita dari Ida tanpa bisa berbuat sesuatu saat itu. Sejak saat itu, ibu sering menangis, menyendiri, menarik diri dari keceriaan bersama anak-anak Ida. Ibu lebih banyak mengurung diri di kamar dan tadarus berjam-jam. Saat satu persatu saudara-saudara ingin berkunjung, ibu benar-benar tidak mau bertemu.</p>
<p>“Paling-paling, ngomongin soal keputusanku,” kata ibu pada Ida. Ya, hanya pada Ida ibu masih mau berbicara. Itu pun tidak banyak.</p>
<p>Ida mulai cemas saat ibu sudah mulai jarang makan. Ia memaksaku untuk datang membujuk ibu. Kabar itu membuatku khawatir. Syukurlah suami dan anak-anak mengijinkanku menemani ibu untuk beberapa hari.</p>
<p>Selama tiga hari ini, aku juga berusaha berbicara dengan saudara-saudaraku meski hanya lewat telepon. Karena ibu melarang mereka datang kalau hanya untuk mempermasalahkan keputusan ibu. Mereka sebenarnya juga merasa khawatir dengan kondisi ibu. Tapi hati mereka merasa sakit atas sikap ibu. Mbak Triana malah ngomongnya ngelantur kemana-mana. Berbagai tudingan dan tuduhan pun mulai ditujukan ke Ida. Bukan hanya itu, anggapan kalau aku sok pahlawan, sok kaya dan gak butuh harta, mencari muka di hadapan ibu…… owwww…… makin memperuwet masalah.</p>
<p>Hingga wajar hal ini juga membuat Ida merasa berada dalam ruang sempit yang gelap tanpa udara. Ibu menjadi seperti ini karena keputusan yang berhubungan dengan dia. Lama aku terdiam sampai kudengar isak Ida……</p>
<p>“Sudahlah, Id….. Kamu percaya sama aku, kalau semuanya akan segera normal kembali. Aku janji akan membantu ibu menjernihkan masalah ini,” ucapku segera. Aku tak mau ibu, Ridlo dan anak-anak Ida lainnya melihatnya bersedih. Diakui atau tidak, Ida lah tempat seisi rumah ini bersandar.</p>
<p>“Aku hanya mau kamu tegar seperti sebelumnya,” kataku segera saat melihat Ida mau mengatakan sesuatu. Ida menyusut air mata yang tak lagi bisa dibendung.</p>
<p>*********</p>
<p>Sore itu aku dan beberapa saudara sepakat bertemu di rumah Diyah. Hanya mas Darmawan dan Warti yang tidak bisa hadir. Tapi mereka berjanji akan menerima segala keputusan bersama.</p>
<p>Suasana sudah terasa kaku sejak awal satu persatu mereka datang. Yang ada hanya basa-basi tidak tulus. Aku bisa merasakan hati dan pikiran mereka yang berputar-putar mencari tahu apa yang bakal aku utarakan, karena akulah yang mengundang mereka. Sengaja pula aku minta Diyah mau rumahnya menjadi tempat pertemuan ini, karena ibu tidak menginginkan anak-anaknya menginjakkan kaki ke rumahnya kalau masih mempermasalahkan hal yang sama.</p>
<p>Sungguh di luar nalarku, tak satu pun yang menanyakan tentang ibu. Tak ada keheranan dan niat ingin tahu, mengapa sampai aku menginap beberapa hari di rumah ibu dan meminta kami berkumpul hari ini juga. Hal itu membuatku geram…… hingga tak bisa kubendung.</p>
<p>“Apakah sudah tidak ada ibu di dalam pikiran mbak-mbak, mas Wisnu dan kamu Diyah, sampai-sampai mulut kalian semua berat untuk menanyakan kabar ibu,” ungkapku dengan nada berat menahan kesal.</p>
<p>“Sudah lah Yas, langsung <em>to the point</em> saja. Kita sudah tahu kalau ibu gak mau bertemu kami lagi,” sergah mas Wisnu tak kalah kesal.</p>
<p>“Mas Wisnu gak gusar dengan larangan ibu itu?”</p>
<p>“Kita hanya menunggu sampai amarah ibu reda, Yas. Itu saja. Bukan berarti kita gak cemas,” mbak Is menimpali. Rasanya, ingin aku menangkis segala kalimat mereka yang jelas tanpa pengetahuan sedikit pun tentang ibu.</p>
<p>Dengan terbata-bata, aku menceritakan keadaan ibu, kesedihan Ida, alasanku dan Warti menerima keputusan ibu. Tak kuberi jeda sedikit pun yang membuat mereka bisa menyelaku. Aku mulai kuliti penilaian mereka terhadap ibu dan Ida, terhadap waris dan hibah, terhadap sebidang lahan, terhadap nasib dan syukur, terhadap hati yang tak lagi tajam menangkap harapan sang ibu……</p>
<p>“Apakah ibu pernah menanyakan mengapa satu diantara kita tak sudi bersamanya meniti hari tuanya? Lupakah kita, ibu terlalu banyak berkata “ya ibu setuju saja, ibu merestui, ibu berdo’a untukmu”. Ibu berusaha dengan keras memahami diri kita. Mengapa tidak bisa kita melakukan hal yang sama. Memahami ibu!” Aku mulai mendengar suara isak yang pelan tertahan. Kutahan hasratku untuk mencari siapa yang mulai luruh dari benteng ego.</p>
<p>“Kita terlalu pandai untuk ibu. Karena itu, ibu terlalu bangga atas diri kita. Tapi tahukah kalian, ibu saat ini sangat dan teramat kecewa. Sekiranya ibu bisa menahan rasa gusarnya terhadap keputusan kita, mengapa kita tidak juga berbuat hal yang sama?? Kurasa, tiga tahun bersama dengan Ida, ibu menemukan banyak hal yang melandasinya memutuskan hibah itu. Ladang dan rumah yang ditempati itu punya ibu. Akan di kemanakan atau diberikan kepada siapa, tidak perlu ibu meminta pendapat kita. Bukankah hal yang sama juga kita lakukan terhadap harta milik kita? Apa yang ibu lakukan sepuluh hari lalu adalah memberi tahu kita tentang hibah itu. Agar kelak tidak menimbulkan fitnah. Bukan menanyakan pendapat kita……”</p>
<p>Mataku memang seakan menatap tajam mereka satu persatu, tapi sungguh…… sebenarnya tatapanku kosong, menyatu dengan hati yang perih membayangkan kondisi ibu. Isak demi isak itu menyeruak di tengah kata-kataku yang tak bersela.</p>
<p>Tiba-tiba hpku berbunyi. Ida… Ia memintaku segera pulang. Ibu menanyakan aku terus-menerus. Ida cemas.</p>
<p>Badanku menggigil karena bayangan yang aku takutkan. Aku meminta mereka tetap tinggal dan merembugkan sendiri apa yang baru saja aku sampaikan. Kukatakan kalau ibu mencariku.</p>
<p>“Kita ke rumah ibu saja sekarang,” Diyah memintanya.</p>
<p>“Jangan. Ida tidak menceritakan kondisi ibu sekarang. Daripada malah memperburuknya, lebih baik kalian tunggu kabar dariku.”</p>
<p>Aku bergegas pulang.</p>
<p>Ida segera memintaku ke kamar ibu. Ibu terbaring lemah di tempat tidur. Begitu melihat kedatanganku, beliau berusaha tersenyum. Oh….Tuhan, aku melihatnya begitu cantik meski usianya sudah lewat delapan dasawarsa. Putih dan pasi akibat beberapa hari ta tersentuh makanan.</p>
<p>“Ibu kenapa?” Ibu hanya menggelengkan kepala sambil tetap tersenyum. Tangan kanannya berusaha menyapu wajahku.</p>
<p>“Dari mana?”</p>
<p>“Rumah Diyah, bu. Silaturahim aja.” Ibu mengedipkan matanya seakan menyetujui apa yang kulakukan.</p>
<p>“Ibu mau apa?” Nafas ibu terdengar berat.</p>
<p>“<em>Sing rukun</em>,” katanya pendek.</p>
<p>Sayup-sayup terdengar adzan Maghrib. Ibu menatap langit-langit dan menggerak-gerakkan bibirnya menyambut lantunan panggilan Allah. Air mataku berlinang, demikian juga Ida. Begitu serua itu berakhir, tangan ibu menyentuh pembaringan di sisi kanan kiri. Tayamum…… Ibu menyelesaikan shalat maghrib dengan berbaring. Kami berdua masih terus di sisinya.</p>
<p>“Bu, aku mau shalat dulu ya. Biar Ida di sini dulu,” kataku. Tangan kiri ibu meraihku. Sambil tersenyum ibu mengatakan lagi,”<em>Sing rukun</em>.” Hatiku seperti dihantam batu penindih Bilal……</p>
<p>“Ibu masih marah?” tanyaku pelan. Dengan lemah ibu melambaikan tangan kanannya.</p>
<p>“Gak marah lagi kan sama putra-putra ibu?” tanyaku kembali berusaha meyakinkan diri. Ibu mengedipkan matanya. Ooooh……… batu itu bagai menggelinding menghantam tonggak penyumbat mata air. Sontak tonggak itu roboh dan menyemburlah air yang membuatku terasa segar dan bersyukur……</p>
<p>“Aku mau shalat dulu ya, bu,” kataku tak sabar….. Ya, aku akan segera memberi kabar mereka yang masih menunggu di rumah Diyah. Belum lagi aku memencet nomor Diyah, kudengar tangis Ida dari dalam kamar ibu&#8230;&#8230;</p>
<p>Tulungagung, 29 Mei 2009</p>
<p>Aku teramat sangat mencintaimu, ibu……..</p>
<p>Untuk para bunda …… salam ta’zimku……</p>
<p>Aku dedikasikan bagi “senior citizen” negeri ini…..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zakyzahra.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zakyzahra.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zakyzahra.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zakyzahra.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zakyzahra.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zakyzahra.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zakyzahra.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zakyzahra.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zakyzahra.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zakyzahra.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zakyzahra.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zakyzahra.wordpress.com/184/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zakyzahra.wordpress.com/184/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zakyzahra.wordpress.com/184/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=184&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/05/29/keputusan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b15677d7e814afc6b9a6ad9e716b3665?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">zakyzahra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BELAJAR DARI ANAK: RUANG MAAF NAN LUAS</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/25/belajar-dari-anak-ruang-maaf-nan-luas/</link>
		<comments>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/25/belajar-dari-anak-ruang-maaf-nan-luas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 00:10:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakyzahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecilku]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan coet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zakyzahra.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[“Walaupun ia begitu kejam kepadaku, ia adalah ayahku dan anehnya aku masih mencintainya. Aku membencinya saat ia memukuliku dan membuat aku lapar dan membiarkan aku kedinginan, tetapi saat semua itu berakhir, dalam waktu yang singkat, aku mulai mencintainya kembali. Ia adalah seoang sosok yang berwibawa dan aku pikir ia pasti tahu lebih banyak dariku. Jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=181&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em></p>
<p class="MsoNormal"><em>“Walaupun ia begitu kejam kepadaku, ia adalah ayahku dan anehnya aku masih mencintainya. Aku membencinya saat ia memukuliku dan membuat aku lapar dan membiarkan aku kedinginan, tetapi saat semua itu berakhir, dalam waktu yang singkat, aku mulai mencintainya kembali. Ia adalah seoang sosok yang berwibawa dan aku pikir ia pasti tahu lebih banyak dariku. Jika ia memperlakukanku dengan buruk, ia pasti punya alasan yang kuat untuk melakukannya. Aku yakin aku bukanlah seorang anak yang nakal, tetapi ia berpikir sebaliknya. Mungkin ia benar dan aku salah, dan apapun yang terjadi di masa lalu, perjalanan ini merupakan hadiah yang bisa menghapus segala keburukan di masa lalu.”<span id="more-181"></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em> </em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>Itulah satu paragraph dari buku (Don’t Ever Tell, dalam versi Indonesia tentunya, hiks) yang ditulis oleh seorang perempuan yang mengalami trauma kekerasan sejak kecil. Kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya yang kemudian berlanjut oleh sebuah sistem. Buku ini baru mulai aku baca, jadi belum tuntas dan belum banyak yang bisa aku kristalkan.</em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em> </em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>Kalimat diatas, Kathy O’Beirne (sangat penulis) tulis ketika ia sudah berusia 40 tahun (saat menuliskan buku ini). Dimana semua kenangan pahit itu ingin ia kuburkan. Bisa kubayangan ketika ia menuliskan kalimat demi kalimat, gejolak batin yang luar biasa pasti terjadi. Antara kemarahan, kebencian yang ternyata tidak mampu menghapus rasa cinta dan sayangnya kepada sang “ayah” yang telah melukainya lahir dan batin. Betapa luasnya ruang maaf itu dalam jiwa Kathy yang terluka parah….. Namun begitu lah dunia anak, dunia yang penuh dengan maaf, meski ia menghadapi trauma yang sangat luar biasa…….</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zakyzahra.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zakyzahra.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zakyzahra.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zakyzahra.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zakyzahra.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zakyzahra.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zakyzahra.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zakyzahra.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zakyzahra.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zakyzahra.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zakyzahra.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zakyzahra.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zakyzahra.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zakyzahra.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=181&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/25/belajar-dari-anak-ruang-maaf-nan-luas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b15677d7e814afc6b9a6ad9e716b3665?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">zakyzahra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SBS: “Tetap Semangat ya Sob….”</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/25/sbs-%e2%80%9ctetap-semangat-ya-sob%e2%80%a6%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/25/sbs-%e2%80%9ctetap-semangat-ya-sob%e2%80%a6%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 00:06:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakyzahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecilku]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan coet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zakyzahra.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Jadi tergelitik ngomongin tentang “semangat”. Sesuatu yang berasal dari dalam diri kita yang memberikan energi untuk melakukan sesuatu. Apakah sesuatu ini bernilai positif atau negatif, menurutku tidak bergantung pada semangatnya, tapi pada aktivitas yang kemudian dilakukannya. Semangat seseorang bisa mendorongnya berbuat kebajian. Namun bisa juga dipergunakan untuk melakukan kebatilan. Semangat merupakan salah satu faktor yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=179&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Jadi tergelitik ngomongin tentang “semangat”. Sesuatu yang berasal dari dalam diri kita yang memberikan energi untuk melakukan sesuatu. Apakah sesuatu ini bernilai positif atau negatif, menurutku tidak bergantung pada semangatnya, tapi pada aktivitas yang kemudian dilakukannya.<span id="more-179"></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em> </em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>Semangat seseorang bisa mendorongnya berbuat kebajian. Namun bisa juga dipergunakan untuk melakukan kebatilan. Semangat merupakan salah satu faktor yang membuat seseorang berhasil melakukan suatu amal perbuatan yang telah direncanakannya.</em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em> </em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>Dari mana semangat berasal? Yang jelas bukan dari negeri antah berantah atau negeri dongeng. Ia bisa berasal dari dalam diri kita, dari sebuah pemahaman yang bermuara pada kesadaran, yang menggelitik alam sadar kita, membawa pesan simpul-simpul kesadaran potensial yang telah Allah berikan ke kita, masuk dan menukik dalam alam bawah sadar kita, dan bekerja menjadi sebuah energi. Begitukah?????</em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em> </em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>Ia juga bisa berasal dari mana saja di luar diri kita. Tapi, apakah itu akan menjadi energi atau tidak, akan sangat bergantung pada kita bagaimana mengolahnya. Oya, aku jadi ingat kata-kata seorang teman yang juga guru Bahasa Indonesia yang merasa sudah putus asa untuk menyemangati anak didiknya. “Wis, pokok-e angel, ra nyanthol blas.” [Sudahlah, sudah pasti sulit, tidak nyangkut (di otak) sama sekali]. Dan mungkin banyak cerita bagaimana tidak mudahnya menumbuhkan semangat pada diri kita maupun orang lain.</em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em> </em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>Jadi…… kita bisa dengan rileks menyampaikan sapa ini pada siapa saja yang kita temui langsung atau tidak, yang kita kenal atau tidak, namun menjadi amal yang luar biasa bagi kita: “Tetap semangat ya sob….”</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zakyzahra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zakyzahra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zakyzahra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zakyzahra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zakyzahra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zakyzahra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zakyzahra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zakyzahra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zakyzahra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zakyzahra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zakyzahra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zakyzahra.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zakyzahra.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zakyzahra.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=179&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/25/sbs-%e2%80%9ctetap-semangat-ya-sob%e2%80%a6%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b15677d7e814afc6b9a6ad9e716b3665?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">zakyzahra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STIMULI KREATIFITAS, BANGUN ENERGI POSITIF</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/23/stimuli-kreatifitas-bangun-energi-positif/</link>
		<comments>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/23/stimuli-kreatifitas-bangun-energi-positif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 04:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakyzahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecilku]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman coet]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan coet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zakyzahra.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Gak ada orang tua yang ingin anaknya gaptek. Karena menguasai teknologi menjadi salah satu indikator modernitas. Nah, ngomong-ngomong soal ini, peluang yang sangat luas tentu dimiliki oleh mereka yang bisa dengan mudah kebutuhan hardware tenologi terpenuhi. Iseng-iseng, aku mencoba mengkalkulasi berapa anak yang mendapatan kemudahan ini. Agak sulit mengukurnya. Karena itu aku menggunakan indikator yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=176&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Gak ada orang tua yang ingin anaknya gaptek. Karena menguasai teknologi menjadi salah satu indikator modernitas. Nah, ngomong-ngomong soal ini, peluang yang sangat luas tentu dimiliki oleh mereka yang bisa dengan mudah kebutuhan hardware tenologi terpenuhi. Iseng-iseng, aku mencoba mengkalkulasi berapa anak yang mendapatan kemudahan ini. Agak sulit mengukurnya. Karena itu aku menggunakan indikator yang sederhana: jumlah anak yang memiliki laptop. Tentunya peluang mereka untuk bisa mengakses informasi dan melakukan komunikasi (melalui internet) lebih mudah.<span id="more-176"></span></p>
<p>Aku gak pakai perhitungan yang rumit. Cukup menggunakan data keberadaan seolah RSBI yang nota bene siswanya wajib memiliki laptop, kecuali SD kali. Wuiiiii……… hebat toh !</p>
<p>Di kota mungil ini ada 2 sekolah tingkat SLTP yang RSBI. Kalau masing-masing sekolah ada 1 kelas RSBI dengan jumlah siswa minimal 30, artinya sudah ada 60 siswa di Tulungagung yang kuasai TIK dengan bimbingan guru mereka, tentunya. Nah, berdasaran data yang ada, untuk tahun ajaran 2009/2010 di Indonesia ada 100 RSBI tingkat SLTA dan 300 RSBI tingkat SLTP. Artinya ada 24.000 anak yang dipastikan juga bisa mengakses berbagai informasi dari laptop yang saban hari menjadi temannya. Bagaimana kalau ada lebih dari 1 kelas di sekolah tersebut? Ya…… tinggal mengalikan saja kan. Mau dikalikan 10, bukan hal yang mustahil.</p>
<p>Trus…… yang gak kehitung karena aku sulit mengorelasikan indikator dengan tingkat kepastiannya. Belum tentu semua orang tua yang kaya mau memfasilitasi anaknya dengan laptop. Tapi bisa jadi fasilitas itu berupa komputer yang dipergunaan bersama keluarga, atau HP dengan full fitur sebagai sarana privat. Atau juga belum tentu orang tua yang kelihatannya pas-pasan gak mampu memfasilitasi anaknya dengan produk tenologi ini (HP, komputer atau laptop). Ada yang mau bantu ngitungin………?</p>
<p>Sebenarnya, hitung-hitungan itu menjadi awal obrolanku dengan teman di salah satu radio komunitas berbasis pendidikan. Harus diakui betapa masih terbatasnya ruang kreatifitas bagi anak-anak. Kebetulan teman yang kata anak-anak mirip penyanyi band Letto ini (sehingga dipanggil Om Letto, atau enaknya sih Omelet…. hehehe) paling suka dengan dunia musik dan radio. Nah, kenapa kita gak melakukan upaya sinergi untuk anak-anak?</p>
<p>Radio ini lah medianya. Radio komunitas…… jelas tidak berbasis komersial. Apalagi komunitasnya juga jelas yaitu masyarakat pendidikan, artinya semua masyarakat kan? Banyak yang bisa kita lakukan, meski itu sangat sederhana. Melalui musik kita sangat mungkin untuk memancing kreatifitas anak yang menyukai dunia nada dan irama ini. Bukan hanya bagaimana mereka belajar memainan alat musik, melatih vokal, namun mereka juga bisa dirangsang untuk mencipta lirik. Awalnya jangan berfikir untuk membuat lagu sendiri. Cukup mengubah lirik dari lagu-lagu yang sudah ada. Nah, kita bisa belajar dari kreatifias Project Pop dengan parodi-nya. Aku rasa, para pencipta lagu dan produser gak bakalan marah dan nuntut anak-anak, toh ini sekedar sebagai ajang belajar dan bukan untuk dikomersialkan. Melalui lirik yang mereka cipta, kita bisa jauh lebih mengenal alam pikir, imaji, fantasi, impian, harapan dan cita-cita mereka. Idealnya begitu, sih……</p>
<p>Dendang mereka pun bisa mengudara melalui radio ini. Demikian juga dengan karya-karya yang telah anak-anak tulis saat “kelas menulis”, bisa juga dibacakan atau diceritakan atau didongengkan melalui radio ini oleh anak-anak sendiri. Ekspresi anak-anak bisa menjadi penyegar acara-acara di radio, disela-sela rutinitas tayangan. Pasti akan sangat luar biasa!</p>
<p>Buat apa?</p>
<p>Jawabannya adalah: untuk membangitan rasa percaya diri mereka. Memberi ruang yang luas untuk menampung dan terus merangsang kreatifitas mereka. Menjadi batu asah yang menajamkan kemampuan mereka. Dan mengalihkan energi besar yang mereka miliki ke arah yang lebih menjamin kehidupan masa depan mereka.</p>
<p>Dan tentunya, hal yang sama bisa kita lakukan pada anak-anak yang memiliki kemudahan dan peluang untuk menguasai tenologi informasi dan komuniasi……… Pada akhirnya, juga diperlukan kerja kreatif dari lingkungan dimana anak-anak tumbuh dan berkembang yang akan menjamin dan mendukung anak-anak ini………</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zakyzahra.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zakyzahra.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zakyzahra.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zakyzahra.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zakyzahra.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zakyzahra.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zakyzahra.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zakyzahra.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zakyzahra.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zakyzahra.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zakyzahra.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zakyzahra.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zakyzahra.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zakyzahra.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=176&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/23/stimuli-kreatifitas-bangun-energi-positif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b15677d7e814afc6b9a6ad9e716b3665?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">zakyzahra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RESTORASI HYMENAL RING</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/23/restorasi-hymenal-ring/</link>
		<comments>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/23/restorasi-hymenal-ring/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 04:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakyzahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecilku]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan coet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zakyzahra.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Maafku pada seorang teman yang membuatku menuliskan renungan ini…… Suatu hari ada seseorang yang mengirimkan pesan pendek ke aku dan menanyakan apa aku tahu dampak restorasi hymenal ring. Saat aku mencoba menerjemahkan istilah itu, aku khawatir salah. Maklum, aku belum pernah mendengar istilah medis yang satu ini. Ahirnya aku menanyakan ke adikku yang saat itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=173&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Maafku pada seorang teman yang membuatku menuliskan renungan ini……</p>
<p>Suatu hari ada seseorang yang mengirimkan pesan pendek ke aku dan menanyakan apa aku tahu dampak restorasi hymenal ring. Saat aku mencoba menerjemahkan istilah itu, aku khawatir salah. Maklum, aku belum pernah mendengar istilah medis yang satu ini.<span id="more-173"></span></p>
<p>Ahirnya aku menanyakan ke adikku yang saat itu masih bekerja di salah satu RS swasta tentang istilah ini. Katanya seperti yang tertulis dalam sms,”Pemasangan selaput dara… efekny, keputihan, perubahan ph..”.<br />
Owwww…… What for??? Apa kenyamanan bagi perempuan yang melakukan prosesi ini? Apa mereka yang akan melakukannnya tidak menanyakan efek sampingnya? Hm, jangan-jangan jawabannya yang mereka terima bias, sehingga mereka meremehkan efek samping yang kelihatannya sangat umum, “keputihan”. Toh, yang gak melakukannya juga tidak jarang mengalaminya?</p>
<p>Ini lah kultur kita. Yang mengukur “kegadisan” seorang perempuan dari aspek keutuhan hymen (selaput dara). Meski tidak selalu pecahnya selaput dara (yang secara umum kenyal dan di tempat yang relatif sangat terlindung) tidak selalu akibat hubungan suami istri, stigma tentang “kegadisan – selaput dara utuh” menjadi beban berat bagi perempuan.</p>
<p>Ya, apalagi fenomena pergaulan bebas lewat batas seperti yang saat ini membuat bulu kuduk berdiri. Bukan dari kesucian yang diukur dari akhlak, keimanan sehingga takut melakukan perbuatan yang dilarang Allah, melainan dari aspek yang menurutku sangat remeh dan pada kenyataannya sangat mudah dimanipulasi.</p>
<p>What for? Apakah disini letak kebahagiaan bersama, sepasang manusia yang usai menyatakan ijab qabul melalui malam pertamanya? Ataukah disini letak kepercayaan diri dan kenyamanan perempuanku? Atau sebenarnya ini semua hanya untuk kepentingan laki-laki (suami) dan membuatnya terbius dalam sakralis malam pengantin? Hm…… entahlah.</p>
<p>Tapi serius…… kalau kampanye kondom yang dilakukan secara umum sangat dikhawatirkan akan berdampak negatif (seakan melegitimasi hubungan seksual secara bebas), bagaimana dengan peluang ini? Ya, katakanlah RHR ini memerluan biaya yang lebih tinggi dari sekedar harga Mr.“k”, artinya ini sudah meminimasi yang bermaksud menjalaninya, toh tetap saja peluang ini ada untuk mereka yang berduit.</p>
<p>Kalau aborsi sebagai tindakan medis mampu dilakukan secara ilegal oleh mereka yang sudah terikat sumpah dan janji profesi, bagaimana dengan layanan RHR?</p>
<p>[Mendadak mandeg otakku………]</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zakyzahra.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zakyzahra.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zakyzahra.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zakyzahra.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zakyzahra.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zakyzahra.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zakyzahra.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zakyzahra.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zakyzahra.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zakyzahra.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zakyzahra.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zakyzahra.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zakyzahra.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zakyzahra.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=173&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/23/restorasi-hymenal-ring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b15677d7e814afc6b9a6ad9e716b3665?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">zakyzahra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUN, AJARI AKU INTERNET</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/23/bun-ajari-aku-internet/</link>
		<comments>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/23/bun-ajari-aku-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 04:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakyzahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecilku]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman coet]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan coet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zakyzahra.wordpress.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Di akhir jam kelas menulis hari Sabtu lalu, anak-anak minta ada waktu khusus untuk mereka diajari internet. “Bun, ajari kita-kita internet, dong.” Hebohnya, permintaan ini diutarakan seluruh nanda di kelas menulis. Kompak banget…… Ngajarin mereka untuk mengenal dunia di luar mereka, bukan hal yang sulit. Anak-anak sangat mudah mempelajari hal-hal kasat mata seperti teknologi ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=171&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Di akhir jam kelas menulis hari Sabtu lalu, anak-anak minta ada waktu khusus untuk mereka diajari internet.<br />
“Bun, ajari kita-kita internet, dong.” Hebohnya, permintaan ini diutarakan seluruh nanda di kelas menulis. Kompak banget……<span id="more-171"></span></p>
<p>Ngajarin mereka untuk mengenal dunia di luar mereka, bukan hal yang sulit. Anak-anak sangat mudah mempelajari hal-hal kasat mata seperti teknologi ini. Kenyataannya, anak-anak sangat mudah mempelajari HP dengan segala fasilitas fiturnya, program-program komputer juga game-game yang selalu baru (meski sebenarnya game-game itu bukan untuk konsumsi anak-anak). Sayangnya, persoalannya gak semudah itu buatku.</p>
<p>Jelas, dengan beberapa catatan yang kupunya, aku jadi sedikit parno. Kalau anak sendiri sih, aku masih bisa secara rutin memantau dengan beraneka cara yang tidak menyakiti harga diri mereka, jelas, tegas, lugas, tapi tidak lupa kocaknya saat merembugkan dengan mereka…… Tapi kalau putra-putri didik, anak orang lain, kalau ada dampak apa-apa setelah itu……… ya Allah, mestikah aku juga akan mempertanggungjawabkannya di hadapanMu kelak?</p>
<p>Saat ini aku sedang mikirin bagaimana menyampaikan kepada mereka rambu-rambu yang tidak berdampak sebaliknya. Biasalah…… namanya juga anak-anak, semakin dilarang semakin besar rasa ingin tahunya. Semakin ditentang, semakin banyak cara untuk bisa melepaskan diri dari pantauan orang tua, semakin banyak kamus kebohongan yang mereka persiapkan. Hm, orang tua bukan lebih mirip kayak Polantas aja……. Ups…… parno ya?????</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zakyzahra.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zakyzahra.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zakyzahra.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zakyzahra.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zakyzahra.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zakyzahra.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zakyzahra.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zakyzahra.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zakyzahra.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zakyzahra.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zakyzahra.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zakyzahra.wordpress.com/171/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zakyzahra.wordpress.com/171/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zakyzahra.wordpress.com/171/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=171&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/23/bun-ajari-aku-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b15677d7e814afc6b9a6ad9e716b3665?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">zakyzahra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKSI ITU DEKAT DENGAN ANAKKU</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/22/aksi-itu-dekat-dengan-anakku/</link>
		<comments>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/22/aksi-itu-dekat-dengan-anakku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 03:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakyzahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecilku]]></category>
		<category><![CDATA[Anandaku]]></category>
		<category><![CDATA[Nikita]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan coet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zakyzahra.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Sepekan lalu aku diskusi dengan beberapa teman tentang semakin teramat dekatnya pornografi dengan dunia anak-anak kita. Kemarin, di warnet langgananku dihentakkan dengan kedatangan polisi. Tidak jelas kasusnya, hanya warnet ini dihubung-hubungan dengan beredaran video singkat tentang aksi porno yang dilakukan pelajar salah satu sekolah di sini. Sekolah itu…… duh, ternyata sekolah dimana anakku melakukan interaksi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=168&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--><em><strong></strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Sepekan lalu aku diskusi dengan beberapa teman tentang semakin teramat dekatnya pornografi dengan dunia anak-anak kita. Kemarin, di warnet langgananku dihentakkan dengan kedatangan polisi. Tidak jelas kasusnya, hanya warnet ini dihubung-hubungan dengan beredaran video singkat tentang aksi porno yang dilakukan pelajar salah satu sekolah di sini. Sekolah itu…… duh, ternyata sekolah dimana anakku melakukan interaksi pembelajaran dan sosial dengan teman sebayanya. Sontak aku merinding dibuatnya.<span id="more-168"></span></strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em><strong> </strong></em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Bertahun-tahun aku menjadi pelanggan warnet (maklum, ga kuat mo akses di rumah, hehehe), aku mengetahui dengan dekat bagaimana dunia anak-anak kita sekarang melalui dunia maya. Berkali-kali aku menemukan situs-situs yang secara vulgar menampilan gambar atau tayangan (baik riil atau dalam bentuk kartun) yang sangat tidak pantas. Lebih parahnya, situs-situs itu bisa ditemukan dengan menggunaan kata kunci seperti “naruto”, “hutan gundul”, “one peace”, dan sejenisnya. Artinya????? Anak-anak dibawah usia 12 tahun pun yang pada awalnya browse film-film kartun yang amat digandrungi, akhirnya “dengan tidak sengaja” menemukan gambar dan tayangan itu.</strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em><strong> </strong></em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Apa yang terjadi? Sudah bisa dipastikan kesan pertama itu memberikan dampak yang luar biasa dalam dunia pikir dan imaji mereka. Sangat tidak bisa dijamin, mereka akan berhenti disitu. Dunia anak penuh dengan rasa ingin tahu. Bahkan hingga kemarin, saya masih disentakkan dengan sebuah situs yang lupa di-close oleh pengguna sebelumnya.</strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em><strong> </strong></em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Selidik punya selidik, ketika aku menanyaan ke operator warnet siapa saja mereka yang online sebelum aku, jawabannya sama, “pelajar”. Selain beberapa diantaranya masih menggunaan seragam sekolah ketika ke warnet (sepulang sekolah), ada juga yang online pada jam-jam sekolah.</strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em><strong> </strong></em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Oya, bisa ubayangan, sebagian dari merea adalah dari ana-ana yang secara eonomi sangat pas-pasan. Orang tua merea tida mengerti apa itu dunia maya dengan segala dampanya, bagaimana ana-ana merea bergumul dengan dunia yang sangat membahayaan jiwa dan arater merea. Ana-ana ini juga dengan mudah bisa mengases internet dengan cara berelompo, satu unit diases bersama dengan biaya ditanggung bersama. Dampanya? Duh…… jauh lebih mengerian dibanding merea mengases sendiri-sendiri.</strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em><strong> </strong></em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Jangan ditanya bagaimana reaksi mereka kalau diingatkan tentang sekolah saat online di jam belajar. Bukan sekedar tak menghirauan, tak jarang mereka memberikan komentar yang tak sepantasnya tentang “sekolah”. Untuk hal ini, aku sangat setuju dilakukan razia rutin dengan jadwal acak. Tentunya dengan tidak mengabaikan aspek dan fungsi edukasi dan dengan cara yang tidak melanggar hak anak.</strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em><strong> </strong></em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Aku tidak bisa membayangan, bagaimana anak-anak yang bisa melakukan online dengan cara yang lebih privat, misalnya online di rumah atau melalui fasilitas HP. Ooooooo…… pasti lebih banyak daripada yang bisa terintip di warnet (itu juga karena faktor “ceroboh” karena anak-anak lupa tidak menghapus situs yang telah diaksesnya). Bisa jadi pengaruh itu begitu teramat dekat dengan orang-orang yang kita kasihi, anak-anak yang kita cintai. Bahkan media privat ini juga telah menjadi sarana pengabadian yang sangat menakutkan.</strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em><strong> </strong></em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Beredarnya video-video privat berdurasi singkat tentang aktivitas cabul dan porno yang dilakukan anak-anak, lebih luasnya pasangan tidak menikah, semakin meghawatiran. Bukan saja bagaimana tayangan itu bisa dengan mudah beredar di masyarakat dan diakses oleh siapa saja tanpa mengenal batas usia, namun lebih karena realita ini menjadi potret generasi yang akan melanjutan tanggungjawab kehidupan di masa yang akan datang. Mereka akan membentuk institusi yang bernama “keluarga” dan menjadi pemimpin-pemimpin mulai dari lingkup kecil sampai elit.</strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em><strong> </strong></em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Tantangan ini teramat berat dan kompleks. Aku hanya bisa berharap, agar kita tidak sampai putus asa untuk bergandeng tangan menemukan solusi bukan hanya secara normatif, namun juga strategis dan praktis yang bisa kita sharing-kan bagi mayoritas keluarga, pelaku pendidikan, pengambil kebijakan dan juga anak-anak kita. Keputus asaan hanya akan membuat kita jauh menjerumuskan mereka. Ya, aku pernah membaca komentar beberapa kawan di negera-negara yang katanya “maju”, sampai harus mewajiban remaja yang sudah aqil baligh untuk senantiasa berbekal kondom untuk menghindari kehamilan dan infeksi penyakit karena hubungan seksual. Fatal!!!!</strong></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em><strong> </strong></em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>Ya Allah……… lindungi anak-anak kami, anak-anak di negeri ini, anak-anak di muka bumi ini………</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zakyzahra.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zakyzahra.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zakyzahra.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zakyzahra.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zakyzahra.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zakyzahra.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zakyzahra.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zakyzahra.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zakyzahra.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zakyzahra.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zakyzahra.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zakyzahra.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zakyzahra.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zakyzahra.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=168&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/22/aksi-itu-dekat-dengan-anakku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b15677d7e814afc6b9a6ad9e716b3665?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">zakyzahra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KREATIFITAS DAN KEPEDULIAN</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/22/kreatifitas-dan-kepedulian/</link>
		<comments>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/22/kreatifitas-dan-kepedulian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 03:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakyzahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecilku]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan coet]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan coet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zakyzahra.wordpress.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Hari Jumat lalu aku sempatkan mengintip kegiatan di beberapa sekolah sehubungan dengan kegiatan Hari Hutan Sedunia. Dari 13 sekolah yang aku intip, ada 2 sekolah yang melakukan kegiatan kepedulian. Selain SDN Kampungdalem 1, ada salah satu SMA Negeri kecamatan yang juga melakukan kegiatan penanaman pohon sepanjang jalan hingga radius sekitar 300 meter dari sekolah. Sekilas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=166&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><em>Hari Jumat lalu aku sempatkan mengintip kegiatan di beberapa sekolah sehubungan dengan kegiatan Hari Hutan Sedunia. Dari 13 sekolah yang aku intip, ada 2 sekolah yang melakukan kegiatan kepedulian. Selain SDN Kampungdalem 1, ada salah satu SMA Negeri kecamatan yang juga melakukan kegiatan penanaman pohon sepanjang jalan hingga radius sekitar 300 meter dari sekolah.<span id="more-166"></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><strong><em> </em></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em>Sekilas kegiatan ini cukup sederhana dan remeh. Paling juga hanya dilakukan setahun sekali, sekedar menyemarakkan peristiwa yang menjadi komitmen negara-negara sedunia. Sebagaimana yang diceritakan salah seorang kawan NGO dalam pesan pendeknya: “kalo di lembagaku, tdk ada yg istimewa biasa jadual tanam pohon di desa.”</em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><strong><em> </em></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em>Yang sederhana menjadi sangat berarti jika didasari komitmen yang tinggi. Cukup 1 pohon setiap orang dalam satu tahun, jika memang ditanam di lahan yang tepat, tidak hanya akan menyelamatan tanah dan lahan dari kelongsoran yang akan menimbulan banyak bencana. Namun pohon-pohon ini akan menyelamatan lingkungan dan ekosistem dimana manusia hidup. Aktivitasnya akan sangat membantu manusia dan c.s.annya mendapatkan udara bersih dan segar serta menghemat curahan air hujan sebagai tabungan air dalam tanah.</em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><strong><em> </em></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em>Pesan itulah yang disampaian anak-anak di SDN Kampungdalem 1. Mereka berkenalan bahwa hutan bukan hanya diperlukan di lahan terbuka berdataran tinggi dan dekat dengan hulu sungai, namun hutan bisa berada di mana saja. Mereka mengenal hutan kota dan saat ini mereka berusaha mengenal hutan sekolah. Tentu tidak seperti “hutan” sebagaimana yang sering kita kenal, berada dalam lahan yang luas ber-hektare dengan pohon-pohon besar kecil yang rimbun dan diramaikan berbagai jenis binatang kecil-besar, jinak hingga buas. Cara ini (“hutan sekolah”) adalah untuk mengenalan fungsi dan manfaat hutan. Dan yang lebih penting adalah menanaman dan menumbuhan kepedulian mereka sejak kecil.</em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><strong><em> </em></strong><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em>Aku amat terkesan, karena pada dasarnya bukan persoalan besar kecil yang kita lakukan namun lebih pada maksud dan tujuan, komitmen dan konsistensi yang menumbuhkembangkan kepedulian dan tanggung jawab secara sinergis. Ya…… tentunya sesuai dengan kapasitas, wewenang dan ranahnya masing-masing kan?</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zakyzahra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zakyzahra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zakyzahra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zakyzahra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zakyzahra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zakyzahra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zakyzahra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zakyzahra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zakyzahra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zakyzahra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zakyzahra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zakyzahra.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zakyzahra.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zakyzahra.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=166&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/22/kreatifitas-dan-kepedulian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b15677d7e814afc6b9a6ad9e716b3665?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">zakyzahra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Pagi: Hutan Sekolah</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/20/catatan-pagi-hutan-sekolah/</link>
		<comments>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/20/catatan-pagi-hutan-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 00:03:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakyzahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecilku]]></category>
		<category><![CDATA[Anandaku]]></category>
		<category><![CDATA[Tanaqiya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zakyzahra.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini si bungsu Tanaqiya tidak memakai seragam hari Jum’at seperti biasanya. Selain menggunakan pakaian olah raga, ia diharuskan membawa salah satu bibit pohon hutan (mahoni, jati, glodhok, nangka, akasia) dan peralatan berkebun “cethok”. Sayangnya, Tana baru mengatakan hal itu kemarin sore, jadi saya tidak bisa mengusahakan bibit pohonnya. Keselamatan hutan yang akan sangat berpengaruh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=164&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em>Hari ini si bungsu Tanaqiya tidak memakai seragam hari Jum’at seperti biasanya. Selain menggunakan pakaian olah raga, ia diharuskan membawa salah satu bibit pohon hutan (mahoni, jati, glodhok, nangka, akasia) dan peralatan berkebun “cethok”. Sayangnya, Tana baru mengatakan hal itu kemarin sore, jadi saya tidak bisa mengusahakan bibit pohonnya.<span id="more-164"></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em> </em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>Keselamatan hutan yang akan sangat berpengaruh terhadap keseimbangan dan keselamatan ekosistem memang sudah seharusnya diperkenalkan kepada anak sejak dini. Beberapa sekolah menindaklanjutinya dengan memasukkan Pendidikan Lingkungan Hidup sebagai kurikulum muatan lokal. Tentu saja, bagaimana menjadikan materi pelajaran ini sebagai penumbuh kesadaran terhadap lingkungan yang sangat mengasyikkan bagi anak-anak, juga diperlukan kreatifitas yang tinggi. Salah satunya, adalah kegiatan yang dilakukan siswa SDN Kampung Dalem I Tulungagung, dimana Tanaqiya belajar bersama kawan-kawannya.</em></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--><em> </em><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>Sebentar lagi, aku akan mengintip kegiatan Tana dkk……… </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zakyzahra.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zakyzahra.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zakyzahra.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zakyzahra.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zakyzahra.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zakyzahra.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zakyzahra.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zakyzahra.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zakyzahra.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zakyzahra.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zakyzahra.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zakyzahra.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zakyzahra.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zakyzahra.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=164&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/03/20/catatan-pagi-hutan-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b15677d7e814afc6b9a6ad9e716b3665?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">zakyzahra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TARUNG IKLAN</title>
		<link>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/02/02/tarung-iklan/</link>
		<comments>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/02/02/tarung-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 00:52:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>zakyzahra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Kecilku]]></category>
		<category><![CDATA[Anandaku]]></category>
		<category><![CDATA[Tanaqiya]]></category>
		<category><![CDATA[Tulisan coet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://zakyzahra.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini kami sampai dirumah sekitar jam 1 siang. Sebab tadi kami (aku, Nita dan Tana) ke Perpustakaan Daerah, kegiatan rutin setiap minggu (2 – 4 kali seminggu) untuk membaca buku, majalah dan koran yang tidak kami miliki. Biasanya kami lakukan sepulang mereka sekolah. Karena sudah mulai rintik, aku terpaksa tidak mampir untuk beli lauk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=159&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Hari ini kami sampai dirumah sekitar jam 1 siang. Sebab tadi kami (aku, Nita dan Tana) ke Perpustakaan Daerah, kegiatan rutin setiap minggu (2 – 4 kali seminggu) untuk membaca buku, majalah dan koran yang tidak kami miliki. Biasanya kami lakukan sepulang mereka sekolah.<span id="more-159"></span></p>
<p>Karena sudah mulai rintik, aku terpaksa tidak mampir untuk beli lauk makan siang. Maklum, hari ini aku sangat males masak. Hehehe, gak pa pa kan sekali-kali…. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ya kalau darurat banget, masih ada warung sate gule di dekat rumah. Motor aku lajukan dengan kencang, khawatir rintik ini akan berubah dengan deras (yang bisa mengakibatkan motorku pilek dan mogok, duuuuuuuuuuuh).</p>
<p>Alhamdulillah sampai rumah, ternyata kecemasan kami gak terjadi.</p>
<p>“Tana temenin umi beli gule ya. Kita makan pake gule, mau?” Serempak Nita dan Tana menyetujui makanan instant yang aku tawarkan. “Kan sudah lama gak makan pake gule….,” kata Nita. Ya iyalah, habis tiap hari masak sendiri. Ceritanya, umi-nya gak bisa masak gule….. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> , selain bahannya mahal juga ribet, apalagi aku sudah sangaaaaaaat lama kalo masak gak pake penyedap masakan dan bumbu instant (tapi masih suka konsumsi mie instant, hehehe).</p>
<p>Rumah kami tepat di perempatan jalan besar desa. Cukup strategis secara sosial maupun ekonomi. Jalan di depan rumah, beberapa tahun lalu direncanakan sebagai jalan propinsi. Entah, proses dialogis yang bagaimana, akhirnya rencana itu dibatalkan. Bagiku, melihat pemandangan yang saat ini ibarat rumput liar adalah hal biasa. Bukan hanya di perempatan jalan dekat rumah kami. Tapi tentu hal yang unik bagi Tana.</p>
<p>“Posternya banyak banget……. Tarung iklan ki….,” celetuknya saat kami melewatinya. Hiks……kami bersitatap dan tertawa. Ooooo, ni pasti karena ia beberapa kali mengikuti berita televisi tentang perang iklan dari partai-partai politik.</p>
<p>“Iya ya, banyak banget posternya,” kataku. Dan memang ada 17 poster calon anggota legisltaif yang berdiri tak beraturan di perempatan ini. Ada yang besar berukuran sekitar 2&#215;2 m, sampai yang hanya sekitar 50&#215;75 cm.</p>
<p>Itu tentu belum semua keluar ya………</p>
<p>“Umi milih yang mana?” tanya Tana ketika kita mau masuk rumah…….</p>
<p>“Rahasia……” Hehehe……….</p>
<p style="text-align:right;">Jum’at, 30/01/2009 16:48:38</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/zakyzahra.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/zakyzahra.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/zakyzahra.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/zakyzahra.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/zakyzahra.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/zakyzahra.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/zakyzahra.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/zakyzahra.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/zakyzahra.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/zakyzahra.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/zakyzahra.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/zakyzahra.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/zakyzahra.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/zakyzahra.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zakyzahra.wordpress.com&amp;blog=3961531&amp;post=159&amp;subd=zakyzahra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zakyzahra.wordpress.com/2009/02/02/tarung-iklan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b15677d7e814afc6b9a6ad9e716b3665?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">zakyzahra</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
