KEPUTUSAN IBU

Posted On 29 Mei 2009

Disimpan dalam mai - Fictions
Tag:

Comments Dropped tinggalkan tanggapan

Masih seperti beberapa hari sebelumnya, ibu sama sekali tidak menyentuh makanan yang tersaji. Ibu hanya akan minum atau makan sepotong tahu saat benar-benar ingin. Aku dan Ida sudah kehabisan akal untuk membujuknya. Kalau begini terus, ibu bisa jatuh sakit.

“Aku benar-benar makin merasa bersalah, mbak,” kata Ida di tengah ketermanguanku. Ia sudah menenteng keranjang plastik untuk belanja. Ridlo, bungsunya yang baru berusia empat tahun tampak jongkok menunggui seekor kucing yang menikmati sarapan pagi di depan pintu dapur. Sementara keempat kakaknya sedang bersekolah.

Sejak tiga hari lalu aku di sini atas permintaannya. Ida sangat mengkhawatirkan kondisi ibu sejak mbak-mbak dan masku meributkan keputusannya yang dianggap tidak adil. Hanya aku dan mbak Tarmi saja yang bisa menerima dengan legawa.

“Gak ada yang salah, Id. Yang ada itu ego yang menutup hati untuk melihat kemauan ibu,” kataku agak jengah. Sudah berulang kali Ida mengatakan hal serupa. Dan setiap kali pula aku berusaha membuatnya berhenti melakukannya. Tapi pagi ini aku mengerti, Ida mungkin sangat terpukul atas perlakuan saudara-saudaranya. Apalagi sebelum ibu membuat keputusan, ibu sudah menanyakan pendapatnya. Ia berusaha untuk menolaknya, karena pasti akan menimbulkan konflik dengan yang lain. Apapun alasan ibu, Ida tetap keberatan.

“Aku benar-benar bingung mbak kalau pada akhirnya ibu begini. Apalagi ibu tidak jelas maunya bagaimana. Setiap kali aku tanya, ibu cuma bilang supaya aku gak banyak bertanya. Kan bingung aku, mbak….?”

Kulihat gurat kesedihan pada wajah adikku yang sudah bertekad untuk menemani ibu sejak tiga tahun lalu. Keputusannya sudah bulat sejak suaminya memutuskan untuk bercerai dan menikahi perempuan lain. Akhirnya, ia bersama lima anaknya pindah kembali ke desa dengan berbagai pertimbangan. Setidaknya, ia bisa dengan tenang membesarkan anak-anak dengan kehidupan yang lebih sederhana. Dan yang tidak kalah membahagiakan adalah ia dapat merawat ibu yang sudah lanjut usia.

Saat itu ibu juga terpukul dengan nasib Ida. Aku juga semula tidak setuju Ida pulang ke kampung. Karena pasti akan menjadi beban bagi ibu. Bagaimana pun ibu tidak akan bisa begitu saja tidak memikirkan Ida dengan kelima anaknya yang masih kecil. Empat diantaranya memerlukan biaya untuk sekolah.

Tapi setelah aku berembug dengan suami dan beberapa saudara, kami pun sepakat menerima permintaan Ida. Apalagi Warti yang selama ini menjaga ibu, berencana akan mengikuti suaminya yang tengah merintis usaha kecil di luar kota. Ya, sejak saat itu kami semua mempercayakan perawatan ibu pada Ida. Untuk meringankan bebannya, aku, mbak Is dan mas Darmawan membantu biaya sekolah anak-anak Ida.

Syukurlah, Ida cukup cekatan untuk mempelajari kehidupan bertani. Ladang seluas hampir enam ratus meter persegi, yang semula ditanami pohon kelapa, berangsur-angsur diubahnya menjadi lahan yang lebih produktif. Semula hanya seratus meter yang ia ubah menjadi lahan sayur dan berbagai kebutuhan dapur yang cocok di tanah semacam itu. Ia memberikan pohon-pohon kelapa kepada dua orang tetangga yang membantunya menebang dan mempersiapkan lahan itu selama beberapa hari.

Dengan tangannya yang dingin, Ida mulai menanamkan beberapa benih, mulai dari kebutuhan bumbu dapur hingga sayur-mayur. Bersama dengan tiga anaknya yang sudah besar, ia mengemasnya untuk dijual ke pedagang sayur keliling dan pasar. Semula semua hasilnya ia berikan ke ibu. Tapi kemudian ibu mempercayakan semua untuk dikelola Ida.

Ladang pohon kelapa itu berubah sedikit demi sedikit karena kegigihan Ida. Bahkan Ida bisa mengajak beberapa perempuan tetangga untuk turut mengolah sehingga menambah penghasilan mereka. Ibu luar biasa terhibur, karena rumah tidak lagi sepi.

Sampai disini, aku sama sekali tidak melihat hal yang membuat hati kami tidak nyaman. Pada kenyataannya, ibu selalu sehat. Anak-anak Ida justru membuat ibu terlihat bergairah. Ketika aku berkunjung di beberapa kesempatan, terus terang, aku merasa sedikit iri, tapi sekaligus merasa bersalah. Aku, keluargaku dan anak-anakku belum bisa membuat ibu sebahagia itu. Aku benar-benar bersyukur. Hingga tak ada yang membuat hatiku berat untuk menyisihkan sebagian pendapatanku untuk membantu Ida.

Dan ketika ibu memutuskan untuk menghibahkan lahan itu semuanya pada Ida, spontan aku menerimanya tanpa menanyakan alasan ibu. Karena aku tahu Ida pantas menerimanya. Ini lah percik kejengkelan di hati ibu ketika menyadari tidak semua anaknya mengerti apa yang menjadi maksudnya.

Bahkan mbak Is yang semula turut membantu Ida, sekarang menudingnya macam-macam. Sebaliknya, mbak Tarmi yang hidupnya pas-pasan, berulang kali minta maaf karena tidak bisa membantu ibu dan Ida, justru bisa legawa.

Alasan mba Is dan yang lain, toh Ida juga sudah menerima tanah warisan sepuluh tahun lalu, saat ibu memutuskan untuk segera membaginya sebelum Tuhan tiba-tiba memanggilnya. Dua tahun kemudian, Ida menjual bagiannya. Aku hanya menduga kalau saat itu ia sangat membutuhkan uang. Bisa dipahami, Ida paling gengsi kalau harus minta bantuan siapapun, meski kepada saudaranya sekali pun.

Lalu apa yang menjadi alasan ibu memberikan lahan itu pada Ida? Apa karena Ida yang menemani ibu? Bukankah selama ini Ida juga mendapatkan bantuan dari saudara-saudaranya? Apalagi, lahan itu sumber penghasilan ibu satu-satunya. Mengapa harus diberikan ke Ida? Apa karena ia janda beranak lima? Apa dia kelak tidak sanggup lagi mencari suami yang akan menopang kehidupan mereka? Atau ada hal lain?

Keterlaluan…….. Ibu hanya bisa menangis ketika semua pertanyaan itu dengan teganya disampaikan mbak Is dan mas Wisnu bertubi-tubi. Hingga mereka bertanya tentang “letak keadilan” ibu. Ida ta berhasil menghentikan kalimat mereka yang sangat menyakitkan bagi ibu dan dirinya. Tapi ibu diam…… Tak ada sepatah kata penjelasan pun kecuali,”Itu yang ingin ibu lakukan.”

Itu terjadi sepuluh hari lalu, dan aku hanya bisa mendengar cerita dari Ida tanpa bisa berbuat sesuatu saat itu. Sejak saat itu, ibu sering menangis, menyendiri, menarik diri dari keceriaan bersama anak-anak Ida. Ibu lebih banyak mengurung diri di kamar dan tadarus berjam-jam. Saat satu persatu saudara-saudara ingin berkunjung, ibu benar-benar tidak mau bertemu.

“Paling-paling, ngomongin soal keputusanku,” kata ibu pada Ida. Ya, hanya pada Ida ibu masih mau berbicara. Itu pun tidak banyak.

Ida mulai cemas saat ibu sudah mulai jarang makan. Ia memaksaku untuk datang membujuk ibu. Kabar itu membuatku khawatir. Syukurlah suami dan anak-anak mengijinkanku menemani ibu untuk beberapa hari.

Selama tiga hari ini, aku juga berusaha berbicara dengan saudara-saudaraku meski hanya lewat telepon. Karena ibu melarang mereka datang kalau hanya untuk mempermasalahkan keputusan ibu. Mereka sebenarnya juga merasa khawatir dengan kondisi ibu. Tapi hati mereka merasa sakit atas sikap ibu. Mbak Triana malah ngomongnya ngelantur kemana-mana. Berbagai tudingan dan tuduhan pun mulai ditujukan ke Ida. Bukan hanya itu, anggapan kalau aku sok pahlawan, sok kaya dan gak butuh harta, mencari muka di hadapan ibu…… owwww…… makin memperuwet masalah.

Hingga wajar hal ini juga membuat Ida merasa berada dalam ruang sempit yang gelap tanpa udara. Ibu menjadi seperti ini karena keputusan yang berhubungan dengan dia. Lama aku terdiam sampai kudengar isak Ida……

“Sudahlah, Id….. Kamu percaya sama aku, kalau semuanya akan segera normal kembali. Aku janji akan membantu ibu menjernihkan masalah ini,” ucapku segera. Aku tak mau ibu, Ridlo dan anak-anak Ida lainnya melihatnya bersedih. Diakui atau tidak, Ida lah tempat seisi rumah ini bersandar.

“Aku hanya mau kamu tegar seperti sebelumnya,” kataku segera saat melihat Ida mau mengatakan sesuatu. Ida menyusut air mata yang tak lagi bisa dibendung.

*********

Sore itu aku dan beberapa saudara sepakat bertemu di rumah Diyah. Hanya mas Darmawan dan Warti yang tidak bisa hadir. Tapi mereka berjanji akan menerima segala keputusan bersama.

Suasana sudah terasa kaku sejak awal satu persatu mereka datang. Yang ada hanya basa-basi tidak tulus. Aku bisa merasakan hati dan pikiran mereka yang berputar-putar mencari tahu apa yang bakal aku utarakan, karena akulah yang mengundang mereka. Sengaja pula aku minta Diyah mau rumahnya menjadi tempat pertemuan ini, karena ibu tidak menginginkan anak-anaknya menginjakkan kaki ke rumahnya kalau masih mempermasalahkan hal yang sama.

Sungguh di luar nalarku, tak satu pun yang menanyakan tentang ibu. Tak ada keheranan dan niat ingin tahu, mengapa sampai aku menginap beberapa hari di rumah ibu dan meminta kami berkumpul hari ini juga. Hal itu membuatku geram…… hingga tak bisa kubendung.

“Apakah sudah tidak ada ibu di dalam pikiran mbak-mbak, mas Wisnu dan kamu Diyah, sampai-sampai mulut kalian semua berat untuk menanyakan kabar ibu,” ungkapku dengan nada berat menahan kesal.

“Sudah lah Yas, langsung to the point saja. Kita sudah tahu kalau ibu gak mau bertemu kami lagi,” sergah mas Wisnu tak kalah kesal.

“Mas Wisnu gak gusar dengan larangan ibu itu?”

“Kita hanya menunggu sampai amarah ibu reda, Yas. Itu saja. Bukan berarti kita gak cemas,” mbak Is menimpali. Rasanya, ingin aku menangkis segala kalimat mereka yang jelas tanpa pengetahuan sedikit pun tentang ibu.

Dengan terbata-bata, aku menceritakan keadaan ibu, kesedihan Ida, alasanku dan Warti menerima keputusan ibu. Tak kuberi jeda sedikit pun yang membuat mereka bisa menyelaku. Aku mulai kuliti penilaian mereka terhadap ibu dan Ida, terhadap waris dan hibah, terhadap sebidang lahan, terhadap nasib dan syukur, terhadap hati yang tak lagi tajam menangkap harapan sang ibu……

“Apakah ibu pernah menanyakan mengapa satu diantara kita tak sudi bersamanya meniti hari tuanya? Lupakah kita, ibu terlalu banyak berkata “ya ibu setuju saja, ibu merestui, ibu berdo’a untukmu”. Ibu berusaha dengan keras memahami diri kita. Mengapa tidak bisa kita melakukan hal yang sama. Memahami ibu!” Aku mulai mendengar suara isak yang pelan tertahan. Kutahan hasratku untuk mencari siapa yang mulai luruh dari benteng ego.

“Kita terlalu pandai untuk ibu. Karena itu, ibu terlalu bangga atas diri kita. Tapi tahukah kalian, ibu saat ini sangat dan teramat kecewa. Sekiranya ibu bisa menahan rasa gusarnya terhadap keputusan kita, mengapa kita tidak juga berbuat hal yang sama?? Kurasa, tiga tahun bersama dengan Ida, ibu menemukan banyak hal yang melandasinya memutuskan hibah itu. Ladang dan rumah yang ditempati itu punya ibu. Akan di kemanakan atau diberikan kepada siapa, tidak perlu ibu meminta pendapat kita. Bukankah hal yang sama juga kita lakukan terhadap harta milik kita? Apa yang ibu lakukan sepuluh hari lalu adalah memberi tahu kita tentang hibah itu. Agar kelak tidak menimbulkan fitnah. Bukan menanyakan pendapat kita……”

Mataku memang seakan menatap tajam mereka satu persatu, tapi sungguh…… sebenarnya tatapanku kosong, menyatu dengan hati yang perih membayangkan kondisi ibu. Isak demi isak itu menyeruak di tengah kata-kataku yang tak bersela.

Tiba-tiba hpku berbunyi. Ida… Ia memintaku segera pulang. Ibu menanyakan aku terus-menerus. Ida cemas.

Badanku menggigil karena bayangan yang aku takutkan. Aku meminta mereka tetap tinggal dan merembugkan sendiri apa yang baru saja aku sampaikan. Kukatakan kalau ibu mencariku.

“Kita ke rumah ibu saja sekarang,” Diyah memintanya.

“Jangan. Ida tidak menceritakan kondisi ibu sekarang. Daripada malah memperburuknya, lebih baik kalian tunggu kabar dariku.”

Aku bergegas pulang.

Ida segera memintaku ke kamar ibu. Ibu terbaring lemah di tempat tidur. Begitu melihat kedatanganku, beliau berusaha tersenyum. Oh….Tuhan, aku melihatnya begitu cantik meski usianya sudah lewat delapan dasawarsa. Putih dan pasi akibat beberapa hari ta tersentuh makanan.

“Ibu kenapa?” Ibu hanya menggelengkan kepala sambil tetap tersenyum. Tangan kanannya berusaha menyapu wajahku.

“Dari mana?”

“Rumah Diyah, bu. Silaturahim aja.” Ibu mengedipkan matanya seakan menyetujui apa yang kulakukan.

“Ibu mau apa?” Nafas ibu terdengar berat.

Sing rukun,” katanya pendek.

Sayup-sayup terdengar adzan Maghrib. Ibu menatap langit-langit dan menggerak-gerakkan bibirnya menyambut lantunan panggilan Allah. Air mataku berlinang, demikian juga Ida. Begitu serua itu berakhir, tangan ibu menyentuh pembaringan di sisi kanan kiri. Tayamum…… Ibu menyelesaikan shalat maghrib dengan berbaring. Kami berdua masih terus di sisinya.

“Bu, aku mau shalat dulu ya. Biar Ida di sini dulu,” kataku. Tangan kiri ibu meraihku. Sambil tersenyum ibu mengatakan lagi,”Sing rukun.” Hatiku seperti dihantam batu penindih Bilal……

“Ibu masih marah?” tanyaku pelan. Dengan lemah ibu melambaikan tangan kanannya.

“Gak marah lagi kan sama putra-putra ibu?” tanyaku kembali berusaha meyakinkan diri. Ibu mengedipkan matanya. Ooooh……… batu itu bagai menggelinding menghantam tonggak penyumbat mata air. Sontak tonggak itu roboh dan menyemburlah air yang membuatku terasa segar dan bersyukur……

“Aku mau shalat dulu ya, bu,” kataku tak sabar….. Ya, aku akan segera memberi kabar mereka yang masih menunggu di rumah Diyah. Belum lagi aku memencet nomor Diyah, kudengar tangis Ida dari dalam kamar ibu……

Tulungagung, 29 Mei 2009

Aku teramat sangat mencintaimu, ibu……..

Untuk para bunda …… salam ta’zimku……

Aku dedikasikan bagi “senior citizen” negeri ini…..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.