STIMULI KREATIFITAS, BANGUN ENERGI POSITIF
23 Maret 2009
Disimpan dalam Catatan Kecilku
Tag: Pengalaman coet, Renungan coet
Gak ada orang tua yang ingin anaknya gaptek. Karena menguasai teknologi menjadi salah satu indikator modernitas. Nah, ngomong-ngomong soal ini, peluang yang sangat luas tentu dimiliki oleh mereka yang bisa dengan mudah kebutuhan hardware tenologi terpenuhi. Iseng-iseng, aku mencoba mengkalkulasi berapa anak yang mendapatan kemudahan ini. Agak sulit mengukurnya. Karena itu aku menggunakan indikator yang sederhana: jumlah anak yang memiliki laptop. Tentunya peluang mereka untuk bisa mengakses informasi dan melakukan komunikasi (melalui internet) lebih mudah.
Aku gak pakai perhitungan yang rumit. Cukup menggunakan data keberadaan seolah RSBI yang nota bene siswanya wajib memiliki laptop, kecuali SD kali. Wuiiiii……… hebat toh !
Di kota mungil ini ada 2 sekolah tingkat SLTP yang RSBI. Kalau masing-masing sekolah ada 1 kelas RSBI dengan jumlah siswa minimal 30, artinya sudah ada 60 siswa di Tulungagung yang kuasai TIK dengan bimbingan guru mereka, tentunya. Nah, berdasaran data yang ada, untuk tahun ajaran 2009/2010 di Indonesia ada 100 RSBI tingkat SLTA dan 300 RSBI tingkat SLTP. Artinya ada 24.000 anak yang dipastikan juga bisa mengakses berbagai informasi dari laptop yang saban hari menjadi temannya. Bagaimana kalau ada lebih dari 1 kelas di sekolah tersebut? Ya…… tinggal mengalikan saja kan. Mau dikalikan 10, bukan hal yang mustahil.
Trus…… yang gak kehitung karena aku sulit mengorelasikan indikator dengan tingkat kepastiannya. Belum tentu semua orang tua yang kaya mau memfasilitasi anaknya dengan laptop. Tapi bisa jadi fasilitas itu berupa komputer yang dipergunaan bersama keluarga, atau HP dengan full fitur sebagai sarana privat. Atau juga belum tentu orang tua yang kelihatannya pas-pasan gak mampu memfasilitasi anaknya dengan produk tenologi ini (HP, komputer atau laptop). Ada yang mau bantu ngitungin………?
Sebenarnya, hitung-hitungan itu menjadi awal obrolanku dengan teman di salah satu radio komunitas berbasis pendidikan. Harus diakui betapa masih terbatasnya ruang kreatifitas bagi anak-anak. Kebetulan teman yang kata anak-anak mirip penyanyi band Letto ini (sehingga dipanggil Om Letto, atau enaknya sih Omelet…. hehehe) paling suka dengan dunia musik dan radio. Nah, kenapa kita gak melakukan upaya sinergi untuk anak-anak?
Radio ini lah medianya. Radio komunitas…… jelas tidak berbasis komersial. Apalagi komunitasnya juga jelas yaitu masyarakat pendidikan, artinya semua masyarakat kan? Banyak yang bisa kita lakukan, meski itu sangat sederhana. Melalui musik kita sangat mungkin untuk memancing kreatifitas anak yang menyukai dunia nada dan irama ini. Bukan hanya bagaimana mereka belajar memainan alat musik, melatih vokal, namun mereka juga bisa dirangsang untuk mencipta lirik. Awalnya jangan berfikir untuk membuat lagu sendiri. Cukup mengubah lirik dari lagu-lagu yang sudah ada. Nah, kita bisa belajar dari kreatifias Project Pop dengan parodi-nya. Aku rasa, para pencipta lagu dan produser gak bakalan marah dan nuntut anak-anak, toh ini sekedar sebagai ajang belajar dan bukan untuk dikomersialkan. Melalui lirik yang mereka cipta, kita bisa jauh lebih mengenal alam pikir, imaji, fantasi, impian, harapan dan cita-cita mereka. Idealnya begitu, sih……
Dendang mereka pun bisa mengudara melalui radio ini. Demikian juga dengan karya-karya yang telah anak-anak tulis saat “kelas menulis”, bisa juga dibacakan atau diceritakan atau didongengkan melalui radio ini oleh anak-anak sendiri. Ekspresi anak-anak bisa menjadi penyegar acara-acara di radio, disela-sela rutinitas tayangan. Pasti akan sangat luar biasa!
Buat apa?
Jawabannya adalah: untuk membangitan rasa percaya diri mereka. Memberi ruang yang luas untuk menampung dan terus merangsang kreatifitas mereka. Menjadi batu asah yang menajamkan kemampuan mereka. Dan mengalihkan energi besar yang mereka miliki ke arah yang lebih menjamin kehidupan masa depan mereka.
Dan tentunya, hal yang sama bisa kita lakukan pada anak-anak yang memiliki kemudahan dan peluang untuk menguasai tenologi informasi dan komuniasi……… Pada akhirnya, juga diperlukan kerja kreatif dari lingkungan dimana anak-anak tumbuh dan berkembang yang akan menjamin dan mendukung anak-anak ini………