AKSI ITU DEKAT DENGAN ANAKKU
22 Maret 2009
Disimpan dalam Catatan Kecilku
Tag: Anandaku, Nikita, Renungan coet
Sepekan lalu aku diskusi dengan beberapa teman tentang semakin teramat dekatnya pornografi dengan dunia anak-anak kita. Kemarin, di warnet langgananku dihentakkan dengan kedatangan polisi. Tidak jelas kasusnya, hanya warnet ini dihubung-hubungan dengan beredaran video singkat tentang aksi porno yang dilakukan pelajar salah satu sekolah di sini. Sekolah itu…… duh, ternyata sekolah dimana anakku melakukan interaksi pembelajaran dan sosial dengan teman sebayanya. Sontak aku merinding dibuatnya.
Bertahun-tahun aku menjadi pelanggan warnet (maklum, ga kuat mo akses di rumah, hehehe), aku mengetahui dengan dekat bagaimana dunia anak-anak kita sekarang melalui dunia maya. Berkali-kali aku menemukan situs-situs yang secara vulgar menampilan gambar atau tayangan (baik riil atau dalam bentuk kartun) yang sangat tidak pantas. Lebih parahnya, situs-situs itu bisa ditemukan dengan menggunaan kata kunci seperti “naruto”, “hutan gundul”, “one peace”, dan sejenisnya. Artinya????? Anak-anak dibawah usia 12 tahun pun yang pada awalnya browse film-film kartun yang amat digandrungi, akhirnya “dengan tidak sengaja” menemukan gambar dan tayangan itu.
Apa yang terjadi? Sudah bisa dipastikan kesan pertama itu memberikan dampak yang luar biasa dalam dunia pikir dan imaji mereka. Sangat tidak bisa dijamin, mereka akan berhenti disitu. Dunia anak penuh dengan rasa ingin tahu. Bahkan hingga kemarin, saya masih disentakkan dengan sebuah situs yang lupa di-close oleh pengguna sebelumnya.
Selidik punya selidik, ketika aku menanyaan ke operator warnet siapa saja mereka yang online sebelum aku, jawabannya sama, “pelajar”. Selain beberapa diantaranya masih menggunaan seragam sekolah ketika ke warnet (sepulang sekolah), ada juga yang online pada jam-jam sekolah.
Oya, bisa ubayangan, sebagian dari merea adalah dari ana-ana yang secara eonomi sangat pas-pasan. Orang tua merea tida mengerti apa itu dunia maya dengan segala dampanya, bagaimana ana-ana merea bergumul dengan dunia yang sangat membahayaan jiwa dan arater merea. Ana-ana ini juga dengan mudah bisa mengases internet dengan cara berelompo, satu unit diases bersama dengan biaya ditanggung bersama. Dampanya? Duh…… jauh lebih mengerian dibanding merea mengases sendiri-sendiri.
Jangan ditanya bagaimana reaksi mereka kalau diingatkan tentang sekolah saat online di jam belajar. Bukan sekedar tak menghirauan, tak jarang mereka memberikan komentar yang tak sepantasnya tentang “sekolah”. Untuk hal ini, aku sangat setuju dilakukan razia rutin dengan jadwal acak. Tentunya dengan tidak mengabaikan aspek dan fungsi edukasi dan dengan cara yang tidak melanggar hak anak.
Aku tidak bisa membayangan, bagaimana anak-anak yang bisa melakukan online dengan cara yang lebih privat, misalnya online di rumah atau melalui fasilitas HP. Ooooooo…… pasti lebih banyak daripada yang bisa terintip di warnet (itu juga karena faktor “ceroboh” karena anak-anak lupa tidak menghapus situs yang telah diaksesnya). Bisa jadi pengaruh itu begitu teramat dekat dengan orang-orang yang kita kasihi, anak-anak yang kita cintai. Bahkan media privat ini juga telah menjadi sarana pengabadian yang sangat menakutkan.
Beredarnya video-video privat berdurasi singkat tentang aktivitas cabul dan porno yang dilakukan anak-anak, lebih luasnya pasangan tidak menikah, semakin meghawatiran. Bukan saja bagaimana tayangan itu bisa dengan mudah beredar di masyarakat dan diakses oleh siapa saja tanpa mengenal batas usia, namun lebih karena realita ini menjadi potret generasi yang akan melanjutan tanggungjawab kehidupan di masa yang akan datang. Mereka akan membentuk institusi yang bernama “keluarga” dan menjadi pemimpin-pemimpin mulai dari lingkup kecil sampai elit.
Tantangan ini teramat berat dan kompleks. Aku hanya bisa berharap, agar kita tidak sampai putus asa untuk bergandeng tangan menemukan solusi bukan hanya secara normatif, namun juga strategis dan praktis yang bisa kita sharing-kan bagi mayoritas keluarga, pelaku pendidikan, pengambil kebijakan dan juga anak-anak kita. Keputus asaan hanya akan membuat kita jauh menjerumuskan mereka. Ya, aku pernah membaca komentar beberapa kawan di negera-negara yang katanya “maju”, sampai harus mewajiban remaja yang sudah aqil baligh untuk senantiasa berbekal kondom untuk menghindari kehamilan dan infeksi penyakit karena hubungan seksual. Fatal!!!!
Ya Allah……… lindungi anak-anak kami, anak-anak di negeri ini, anak-anak di muka bumi ini………